PLESIRAN KE DATARAN TINGGI DIENG, WONOSOBO.

 

18 September 2015,blog

 

Siapa tak kenal dataran tinggi Dieng, Wonosobo tepatnya terletak di Kabupaten Banjarnegara yang terkenal indahnya bukan main, cihuy lah apalagi kalau kalian mau liat surise hemmm puncak bukit sikunir yang tepat untuk disinggahi. Di sana kita bias lihat golden sunrise super MasyaAllah, sayangnya saat saya kesana saya tidak bisa melihat karya Tuhan yang indah itu, ya next time dapat ngelancong lagi ke Dieng dan menyaksikan terbitnya matahari dari puncak sikunir, aamiin. Selain itu masih banyak lagi kawasan di komplek wisata tersebut yang menawarkan keindahan yang aduhay (bahasa lebay) tapi memang bener deh bakal ketagihan berwisata ria plus murmer (murah meriah) ke dataran tinggi Dieng.

Oya mengapa saya dan patner tergokil, sekaligus sodara sepupu terkeceh yaitu cn/kibo alias nissa, memilih Dieng untuk plesiran? Begini ceritanya… selain  keindahannya yang menarik untuk dikunjungi, kebetulan kami sedang berada di Jawa Tengah, rumah embah Parinah yang tidak lain tidak bukan embah kita hihi, tepatnya di Kutoarjo. banyak yang bilang akses ke Dieng gampang lumayan kok, nah setelah kita berunding dan searching dim bah google akhirnya memutuskan plesiran ke Dieng, dengan memilih menggunakan kendaraan roda dua, alias motor selain ongkos lebih murah, bisa menghemat waktu perjalanan dibandingkan kita harus menggunakan transportasi umum.

Kami berangkat dari rumah bude setelah minta izin minjem motor ± pukul 08.00 pagi. Awal perjalan tak lupa dengan berdoa agar perjalanan lancar serta selamat sampai tujuan dan pulang, 30 menit perjalanan kita masih ketawa cengengesan seneng bisa plesiran ke Dieng setelah 1 jam lamanya perasaan agak sedikit panik, takut kesasar mulai berkecamuk. Sebab kita melewati rute di daerah Bruno jalur jalannya berada di pinggir gunung apa bukit gitu, tau kan gimana jalan gunung yang berkelok dan tikungan tajam, dan kita merasa kita berputar disitu mungkin karna rasa kepanikan kita jadi sampai berfikir yang negatif, ternyata memang jalur Bruno yang di samping kiri tebing gunung dan samping kanan sungai batu yang lebar dan curam memang panjang. Kenapa kita gak milih akses jalan utama arah Semarang Wonosobo, waktu itu kita mikir jalur utama tersebut pasti lebih jauh, dibandingkan kita melewati desa Bruno. Ternyata prediksi kita kurang tepat malah dengan melewati akses kota,yaitu Kutoarjo-Puworejo-Wonosobo rute ini lebih cepat di bandingkan jalur desa yaitu Kutoarjo-Bruno-Brunorejo-Kertek-Wonosobo kota-Dieng. Jika memilih jalur desa disarankan untuk berhati-hati selain medannya yang berkelok banyak truk pengangkut kayu yang berlalu lalang, untung jalanannya sudah bagus aspal mulus, kalah jalan perkotaan, mungkin karena sedikit pengguna jalan di desa Bruno.

Pukul 11.20 kami tiba, tarraaaa yeah Allhamdulillah sampai juga kita di dataran tinggi Dieng, setelah melewati perjalan 3 jam lebih, yang kata orang ‘lumayan’ ternyata kami paham maksud dari kata tersebut yaitu lumayan jaoohh men, hehe. Ya kebayang lah naik motor 3 jam lebih pala puyeng, pinggul pada pegel yahh tapi itu semua terbayar kok iyah terbayar sama pemandangan Dieng, hawa sejuk damai Dataran Tinggi Dieng. Kami beristirahat sejenak merenggangkan otot-otot kaki yang bergumam perjalan 3 jamoh iya diperjalanan kami bertemu bapak-bapak polisi yang bertugas razia kalo gak salah di daerah desa Bruno kami aman karena apa jelas surat yang kami miliki semua lengkapss, yang diinget si yak arena di berhentiin pakpol tampan hihi. Kami pun tau mau kehilanagan moment yap apa itu selfie eh wefie deh kan berdua J di tembok yang bertuliskan Dieng.

.dieng

Sigokil nissa disebelah kanan..

Kami melanjutkan perjalanan untuk masuk kedalam kawasan Wisata Dieng, yang pertama kami kunjungin yaitu Daratan tinggi Dieng Teater yang menampilkan sejarah Dieng dengan visualisasi layar lebar. Selanjutnya makan siang hehe gaya banget makan siang, karena kami adalah plesiran backpacker yang menjunjung tinggi pengeluaran yang ekonomis jadi di jalan kami mampir kesalah satu minimarket untuk membeli cemilan serta mie cup untuk bekal. Setelah itu kami sholat di mushola dekat teater. Nah yang paling berkesan saya bertemu dengan anak kecil yang berambut gimbal, di Dieng sangat terkenal dengan bocah-bocah yang berambut gimbal. Dan uniknya rambut mereka tidak bisa dipotong sebelum anak tersebut mengajukan permintaan kepada orang tuannya dan di potong rambutnya dengan adat tradisi setempat masyarakat Dieng. Hemmm sayangnya saya gak sempat foto bersama anak gimbal Dieng.

Langkah kaki kami berlanjut ke Batu Pandang dengan biaya tiket @Rp 10.000, dengan track yang menanjak tapi jangan khawatir karena sudah banyak di buat pijakan-pijakan anak tangga. Sesampainya di atas weewww tak ada hentinya mulut ini mengucapkan rasa syukur dan pujian atas nikmat keindahan yang Allah ciptakan. Bisa ditengok kakaaa poto kami :

dua

Sanking indahnya kami sampai terlena sudah lama kami menikmati pemandangan dari Batu pandang yang mengarah ke danau Telaga Warna, karena hari makin sore kami pun memutuskan untuk turun dan pulang. Yang kami sedihkan banyak tempat di wisata Dieng yang tak sempat kami kunjungi, hanya melewati saja seperti Candi dan Telaga Warna dan banyak lagi. Kita cepat pulang karena tidak mau kemaleman di jalan karena ini bukan Jakarta atau Bekasi dimana malam hari masih banyak hiruk pikuk aktifitas, berbeda di Jawa hari gelap dan jalanan sepi, maka dari itu kami memutuskan untuk pulang pukul 15.00. dan tak lupa kami membeli oleh-oleh khas Dieng yaitu buah Carica atau papaya gunung yang sudah di kemas menjadi manisan carica.

Lelah senang campur aduk, banyak pengalaman perjalanan hari ini. Eiits gak sampai disitu aja yang unik perjalan pulang saya gentian yang mengendarai motor karena di Wonosobo kota menerapkan one way atau satu arah/jalur saya dan sepupu saya bingung dan sempet nyasar. Dan kami memutuskan bertanya ke pada pak Polisi yang sedang bertugas, setelah kami paham dengan arahan pakPol kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami melihat bapak-bapak polisi yang bertugas razia lalu lintas, dan ternyata tanpa di sangka yang memberhentikan kami yaitu pakPol tampan yang sebelumnya kami bertemu di perjalanan berangkat masih ingetkan? Hehe, bagaikan teman lama yang bertemu saya dan sepupu saya heboh, bapak polisi tampan hanya tersenyum dan menanyakan “gimana tadi sampai kan Dieng? Kemana aja? Kenapa gak lihat sunrise disana kan indah?” , kami menjawab dengan ekspresi cengar cengir gak nyangka ketemu lagi, berasa kayak udah kenal banget sama pakPol tersebut.

Setiba di rumah embah sekitar 06.30, bener dugaan kita embah menanti kedua cucunya yang blemu pulang-pulang plesir beliau khawatir tapi setelah melihat kami tiba dengan selamat ketawa yang sumringahnya menggambarkan kata Lega dari hatinya. Maafkan mbah Parinah bikin khawatir dan nunda makan karena nungguin kita pulang makasih mbah sayanggg.

Sekian syudah cerita yang panjang, rumit, bertele-tele membacanya yak yak gitu dah amatiran dalam merangkai kata untuk bikin 1 artikel penulisan masih belepotan. Harap maklum dan terimakasih atas keikhlasannya untuk membaca tulisan ini.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s