Zainab ats-Tsaqafiyah

Kisah Shahabiyah Zainab ats-Tsaqafiyah

Kehidupan sahabat sungguh-sungguh kehidupan yang mulia. Langkah dan segala tutur kata mereka penuh tujuan mulia, surga, dan keridhaan Rabb-nya. Begitu pulalah yang tergambar dalam diri seorang Zainab ats-Tsaqafiyah [Semoga Allah meridhai beliau]
Gambar Hanya Ilustrasi.

Dialah Zainab bin Abdillah bin Mu’awiyah din Attab in al-Asad bin Ghadhirah bin Huthaith bin Qasiy. Seorang wanita yang berislam dan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia istri yang baik bagi seorang shahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud.
Zainab ingin apa yang dia lakukan untuk suaminya dan keluarganya berbuah pahala yang besar di sisi Rabb-nya.

Ummu Salamah

Perempuan Sholihah dengan Kecerdasan yang Mencerdaskan.

Siapa yang tidak kenal Ummu Salamah? Janda terhormat bangsa Arab itu masuk ke rumah tangga Rosululloh, di awal malam sebagai pengantin dan di akhir malam sudah menggiling gandum.

Gambar Hanya Ilustrasi.

Dia adalah wanita yang suci, berhijab, dan terhormat. Terkenal cerdas, pandai, memiliki pandangan tajam, dan pemahaman yang  mendalam. Namanya Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah. Berasal dari keluarga yang mulia dan terpandang dari Bani Makhzum. Ayahnya adalah seorang tokoh Quraisy yang dikenal sangat dermawan dan pemurah. Hindun adalah sepupu pedang Alloh, Kholid bin Walid. Sekaligus sepupu Abu Jahal bin Hisyam.  Dia termasuk wanita yang pertama kali hijrah. Sebelum menjadi istri Nabi SAW, ia menikah dengan saudaranya yang sholih, Abu Salamah bin Abdul Asad Al Makhzum. Pernikahannya dikarunia putra dan putri: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah. Continue reading

Fatimah Az-Zahra

 

Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali–prajurit utma Islam yang terkenal–datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada aya hnya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jau h letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.

Gambar ilustrasi.

Continue reading

Hafshah Binti Umar

Profil Seorang Shahabiah yang Teguh dan Sabar.

Beliau adalah ummul mukminin yang gemar berpuasa dan shalat. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un binti Hasib. Hafshah adalah istri dari sahabat Khunais bin Khudzafah Al Sahmi yang ikut hijrah ke Habsyah dan Madinah. Khunais syahid pada perang Uhud. Ketika itu Hafshah berusia 18 tahun. Meski hidup dirundung duka, namun keimanan dan keteguhan hati Hafshah dapat meredam segala yang terjadi dan menerpa pada dirinya. Ia menyadari benar bahwa semua adalah takdir dari-Nya. Kesabaran, ketabahan, sikap hidup qanaah dan wara’ Hafshah selalu menyelimuti pribadinya. Umar sebagai ayah dari sahabiah yang dijuluki shawwamah (selalu puasa) dan qawwamah (selalu bangun malam) ini, beliau berusaha mencarikan teman hidupnya yang cocok. Beliau berangan jika Hafshah dipertemukan oleh Allah dengan sahabat Utsman bin Affan ra. Karena Utsman juga senasib dengan Hafshah. Utsman telah ditinggal oleh istrinya yang tercinta Ruqayyah binti Rasulullah SAW.

Continue reading

Nusaibah, wanita perkasa

Ilustrasi Muslimah berkuda.
Ilustrasi Muslimah berkuda.

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar.Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya.”Wahai Suamiku, aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu,tapi Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said. ”Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Continue reading